Minggu pagi (18 Oktober) saya dan Susan berangkat ke gereja seperti biasa. Susan menyetir di depan, saya dibonceng di belakang. Setelah melewati lampu pertigaan Margorejo (sekitar GIANT), terjadi kecelakaan. Saya dan Susan dipotong oleh seorang pemuda (tidak memakai helm – kalau tidak salah), sebab dia memotong dari kanan, langsung menyerong ke kiri, tepat di depan kami.
Susan tidak bisa menghindari, karena dia (dan saya) berpikir pemuda ini memang menyalip kami dari kanan, tapi tidak menduga jika dia mendadak belok ke kiri. Saya lihat, memang di sebelah kiri sudah berhenti 2 sepeda motor lain dan 4 muda mudi ada disana. Kemungkinan, anak ini melihat teman2nya dan langsung membelok ke arah mereka. Tapi dia tidak memberi tanda atau menunggu sampai saya dan Susan lewat.
Tabrakan terjadi. Sepeda motor kami terguling ke kanan. Saya jatuh terlentang, di atas aspal, dan saya melihat langit di atas, langsung berseru “Yesus, Yesus… tolong…”. Sewaktu saya bangkit, saya lihat istri saya sudah tengkurap sekitar 3 meter, dia juga menjerit “Yesus, Yesus…. tolong Yesus…”.
Saya tidak melihat kondisi pemuda tadi, tapi yang terjadi kemudian, teman2nya memapah istri saya. Dia tidak bisa bernafas beberapa detik, karena dadanya jatuh langsung dibanting di aspal. Teman2 pemuda tadi berkerumun, dan pemuda itu berulang kali meminta ampun kepada kami. Saya biasa saja, tidak marah atau tersinggung, malah menyabarkan pemuda itu. Sementara saya lihat istri saya berusaha ‘kembali’ berhafas, dadanya sesak. Dia berkata pada pemuda itu : “Sampeyan GOBLOG!” Dan kalimat berikutnya : “Kalau saya nggak ingat saya punya anak sebesar kamu, dan saya mau ke gereja, tak KERPUKI (tak hajar) kamu dengan helm ini!”.
Teman2nya memberi istri saya air minum. ATas desakan teman2nya, pemuda tadi memegang tangan istri saya dan saya dan berulang kali meminta ampun. Setelah saya check, kendaraan saya masih bisa distater, lalu kami melanjutkan perjalanan ke gereja. Saya membonceng di depan, istri di belakang.
Kami akhirnya bisa beribadah di Lemah Putro. Walau dada istri saya masih sesak, tangan kanan susah digerakkan. Dengkul kanan saya biru, telapak tangan kanan saya memar. Kami akhirnya bisa pulang ke rumah dengan selamat. Sepanjang perjalanan, istri saya rajin mengkoreksi diri. Apa yang telah salah dalam kehidupan kami? Dulu saya jatuh dari sepeda motor karena kesombongan saya. Merasa bisa mengerjakan apa yg Tuhan beri di Johor. Sekarang? Istri saya memang bbrp hari ini selalu mencela para bapak-bapak di lingkungan kami yang memaksa SUSAN untuk menjadi RT di perumahan kami. Tapi dengan tegas istri saya menolak, karena dia berkata “Saya mau jadi RT di sini, kalau SEMUA BAPAK-BAPAK DI SINI SUDAH MATI SEMUA…” (Artinya, Susan menolak tidak mau jadi RT – walau banyak orang mencalonkan dia). Apakah kesombongan Susan menyebabkan dia – jatuh – dari sepeda motor? Hanya dia yang mengerti dan tahu.
Pagi ini, saya antar Susan ke tempat pijat urat. Dan sedikit lega, sudah bisa bernafas dengan lancar, dan minggu depan harus kembali untuk dipijat.